Little Wanderer

facebook instagram pinterest
  • HOME
  • INDONESIA
    • Bali
    • Malang
  • ABROARD
    • Singapore
    • Japan
    • Paris
    • Switzerland
    • Rome
    • Netherland
  • VISA
  • ACCOMODATION
  • TRANSPORT
  • FOODIE
  • TIPS
Bicara soal Paris, yang ada di pikiran saya adalah, woww.. one of the beautiful city in the world. Banyak orang yang suka sekali ke Paris, termasuk artis dan model2 dunia sana. Dan bisa pergi ke Paris (lebih tepatnya sih bisa balik lagi ke Eropa) buat saya adalah seperti one of my dreams come true.

Well... mungkin sama seperti orang-orang lain yang juga bepergian dengan ala koboy atau istilah kerennya backpacker, sebelum pergi saya juga sibuk cari sebanyak-banyaknya info tentang negara/ kota-kota yang akan saya kunjungi. Apalagi saya pergi bawa 2 bocah, jadi harus sedikit lebih detail dibanding dengan kalau saya pergi sendiri. Kalau sekarang sih cari infonya ga sesusah dulu, karena udah banyak banget yang ngepost tentang backpacker-an, salah satunya adalah di group FB yang saya follow yaitu Backpacker International. Lengkap banget di sana, dari transport, hotel, makanan, tujuan wisata, dll ada di sana asalkan kita ngga males baca, karena semua info tsb berupa sharing2 dari orang-orang.

The Bronx in Paris

Setelah melewati segala rintangan dari aiport menuju ke apartment, perjalanan kami di Eropa pun siap dimulai. Angin dingin kembali terasa ketika kami menapakkan kaki kami di luar gedung apartment. Masih 13 derajat Celcius dan saat itu sekitar pukul 2 siang. Menurut itinerary yang saya buat, tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah The Sacre-Coeur Basilica Montmartre yang terletak di bukit Montmartre yang merupakan titik tertinggi kota Paris. 

Menurut 'kamus pintar' saya, dari Belleville, kami harus naik Metro M2 ke Stasiun Anvert. Dari apartment kami ke stasiun Metro Belleville sangatlah dekat. Keluar dari kawasan apartment tinggal jalan kira2 200m sudah langsung kelihatan lambang Metronya. Sembari melangkah ke sana, saya memperhatikan sekeliling saya. Menurut saya tempat ini kurang tepat kalau disebut sebagai China Town. This place makes me feel like i was in the Bronx. Saya inget lagi kata-kata driver taksi tadi bahwa daerah itu adalah daerah pendatang dan bukan daerah elite, jadi ya udah terima aja.

Sebenarnya saya juga sudah tahu kalau di Perancis itu banyak orang kulit hitam dan sebagian dari mereka mempunyai kewarganegaraan Perancis. Sebut saja pemain sepakbola Paul Pogba atau  Bacary Sagna. Tapi bagaimana awalnya mereka bisa tinggal di Perancis atau migrasi ke Perancis, itu yang membuat saya penasaran.

Kata temen saya yang sudah tinggal di sana, sejarahnya adalah ketika jaman perang dulu, Perancis porak poranda dan banyak kehilangan penduduknya dalam perang. Karena itulah kemudian mereka membawa orang-orang dari negara-negara yang mereka jajah yang mostly adalah negara-negara di Afrika untuk masuk dan membangun kembali Perancis. Lalu orang-orang tersebut membawa serta keluarganya untuk tinggal di Perancis. Nah, jadilah Perancis seperti sekarang ini. Tapi temen saya bilang, tidak perlu takut pada mereka, karena rata-rata mereka baik koq, justru yang terkenal yang suka nyopet itu adalah orang kulit putih yang berpenampilan seperti gelandangan/ gipsy.

Transportasi di Paris

Selama berada di Paris 3 hari, saya mencatat semua jalur Metro yang harus kami tumpangi untuk mencapai lokasi tujuan kami. Kenapa saya memilih untuk naik Metro? Yahh karena saya baca-baca dan ada ungkapan yang katanya 'Kalau ke Paris tidak lengkap kalau kita tidak mencoba naik Metro Paris,' nahhh.. penasaran-lah saya. Tapi kalau dipikir-pikir, setelah saya sendiri mencoba naik Metro, saya menyimpulkan bahwa orang senang naik Metro karena lebih mudah dijangkau dan lebih cepat. Tapi untuk Metronya sendiri, hmmm.. masih kalah bagus sih sama MRT di Singapore kalau menurut saya.

Source : Google

Lalu selain Metro, adakah transportasi lain. Tentu saja aja.

Jadi kalau bicara soal transportasi umum di Paris, pertama kita harus tahu kita mau kemana aja, lalu tempat itu letaknya di daerah/ zona yang mana, dan yang terakhir tentu saja tiket apa yang harus  dibeli untuk transportasi umum di Paris.

Paris itu sendiri terbagi jadi 5 zone. Zone 1 adalah pusat kota dan hampir semua objek wisata Paris yang terkenal seperti Eiffel, Notre-Dame, Louvre Museum itu berada di zona ini. Versailles ada di zona 2, lalu Disneyland dan CDG Airport itu berada di zona 5. Untuk alat transportasi umum dalam kotanya sendiri juga ada beberapa macam. Selain Metro yang terkenal, tentu saja ada bus, lalu RER (train).

Untuk tiket tidaklah ribet, karena satu tiket itu bisa mencakup semua transport, yang membedakan hanyalah zona dan masa berlaku tiketnya. Jadi kalau mau beli tiket transport bisa disesuaikan dengan tempat-tempat kemana kita mau pergi.  Kalau cuma mau liat menara Eiffel, Arc de Triomphe, Notre-Dame gitu-gitu sih ga perlu beli tiket yang mencakup 5 zona. Dan untuk kami, saya memilih tiket single, namanya t+ ticket yang hanya mencakup zona 1 saja dengan harga 14,90 Euro  untuk 10 tiket. Sedangkan kalau beli satuan, harganya 1,90 Euro. Harga tiket dewasa dan anak-anak (6-12 tahun) tidaklah sama. Tiket anak-anak harganya lebih murah 50% dari tiket orang dewasa, sedangkan untuk anak di bawah 6 tahun, ngga perlu beli tiket apapun alias masih gratis.

Metro ini sistemnya sama kaya di Singapore, selama kita ga keluar stasiun Metro, kita bisa bebas naik turun Metro kemana pun. Nah tiket ini jangan sampe ilang karena akan dipake ketika kota mau keluar stasiun Metro. Untuk jelasnya tentang pilihan tiket dan transportasi di Paris bisa lihat diSINI. Dan kalau mau naik Metro, bisa lihat jalurnya di web parisbytrain.com.

Sedikit cerita, sewaktu saya hendak membeli tiket di salah satu mesin yang berjejer di depan pintu masuk Metro, tiba-tiba seorang pria muda berkulit hitam menghampiri saya dan menawarkan tiket Metro. Dia bilang tiket yang dia jual sama saja dengan tiket yang dijual di mesin. Saya sudah menolak, tapi ini orang agak maksa. Sempet sebenernya tergoda untuk beli tiket dari dia tapi mengingat pepatah, "JANGAN PERCAYA BANTUAN ORANG ASING DI PARIS," akhirnya saya tetap menolak dan beli tiket dari tourist information saja biar ga salah.

Kurang Ramah Anak & Disable

Ketika saya tiba di depan papan bertuliskan Belleville dengan lambang metro di sampingnya, saya hanya melihat tangga biasa, tidak ada eskalator ataupun petunjuk tentang adanya lift. Lalu saya bertanya-tanya dalam hati, masa sih untuk kota sebesar Paris yang secara di Eropa, ngga menyediakan fasilitas lift atau setidaknya eskalator untuk turun/ naik di statiun Metro. Gimana ceritanya dengan orang-orang yang bawa stroller seperti kami ini atau orang-orang yang menggunakan kursi roda. Karena penasaran, turunlah saya duluan ke bawah dengan harapan bisa menemukan lift. Tapi setelah lihat kanan kiri dan akhirnya bertanya ke seorang wanita yang juga bawa stroller yang sepertinya adalah imigran dan dia bilang kalau dia menurunkan strollernya dengan cara di angkut, then pupus lah harapan saya menemukan lift untuk turun ke bawah. Damn!!

Source : Google

Cukup perlu tenaga untuk mengangkat turun stroller tandem plus si boy yang duduk di sana. Kebayang dah hari-hari berikutnya harus dimulai dengan mengangkat turun dan naik stroller ke statiun Metro. Duhh, moga-moga cuma di sini aja yang ngga ada lift/ eskalator, saya berharap dalam hati. Tapi ternyata... di stasiun Metro Anvers pun tidak ada lift atau eskalator, yang ada cuma tangga dan yang ini malahan lebih parah dibanding di Belleville. Kalau di Belleville tangganya pendek dan cuma satu doang, di Anvers ini tangganya tinggi dan ada 2, naik lagi! Yahh.. apa boleh buat, itung-itung gantiin kelas body pump-nya koko Randy aja deh dibanding ngeluh, toh ngeluh ga nolong sama sekali.

Saya menilai kalau Paris kurang ramah anak/ disable adalah karena dari semua statiun Metro yang kami singgahi, hanya ada SATU statiun yang memiliki lift yaitu Bir-Hakeim yang merupakan stasiun dekat menara Eiffel. Jadi kalau bawa stroller, saran saya sih jangan naik Metro, kecuali kalau mau gotong turun naik. Mending naik bus saja. Tidak apa-apa lama sedikit, tapi kan lebih enak tinggal dorong stroller masuk ke dalam bus.

Nah, singkat cerita, akhirnya pada malam pertama itu kami memutuskan untuk naik bus pulang ke apartment dari Hotel de Ville. Untuk petunjuk nomor bus/ metro saya selalu melihat dari Rome2Rio. Ada aplikasinya juga, jadi lebih gampang kalau mau dipakai dibanding harus buka browser dulu. Sumpah, aplikasi ini membantu banget. Lengkap banget penjelasannya dan dia juga bisa nge-link sama Google Map. Jadi kalau misalnya saat ini kita ada di Notre-Dame dan mau naik bus di Hotel de Ville, kita harus jalan ke arah mana untuk bisa ke Hotel de Ville itu bisa kita liat. Helpful banget pokoknya.

Lanjut, setelah menunggu sekitar 20 menit, datanglah bus yang harus kami tumpangi. Cukup lama putar-putar, akhirnya sampai juga di Belleville. Sayangnya dari halte bus Belleville ke apartment kami itu harus jalan lagi sekitar 15 menit. Kami tiba di halte Belleville itu  sekitar jam 10 malam dan hari baru saja berubah menjadi gelap. Sebenarnya jalan tidak apa-apa, tapi karena di sana daerahnya cukup menyeramkan plus kurang penerangan, jadi kami berjalan dengan perasaan was-was alias parno. Kapok deh pulang malam-malam naik bus, next kalau mau pulang naik bus kayanya harus kalau hari masih terang deh.

Expectation vs Reality

Paris is one of the most beautiful city in the world. Well.. it could be yes and it could be not.

Sewaktu saya cari-cari apartment buat di Paris, pilihan saya ada 2, Belleville dan Montmartre. Karena ngga ngerti tentang daerahnya, akhirnya saya tanya sama teman saya yang tinggal di Paris, "Sis, Belleville sama Montmartre mending mana?" Lalu dia bilang, "Belleville itu Chinatown, banyak resto asia dan toko asia, Montmartre kawasannya lebih elite sih tapi jalannya turun naik,". Waktu dia bilang begitu, saya langsung menjatuhkan pilihan saya ke Belleville, karena saya pikir kalau jalannya naik turun, repot juga kalau bawa stroller kan. Lagian kalau di Chinatown, kita ngga perlu takut ngga bisa makan, itulah harapan saya. Tapi kenyataannya, Belleville jauh dari bayangan saya, tapi untungnya apartmentnya nyaman dan letaknya strategis.

Begitu kami tiba di Montmartre - setelah menggotong naik stroller tandem plus si boy - barulah saya 'ngeh' dengan kata elite yang teman saya bilang itu. Apalagi ketika kami berada di daerah Montparnasse, woww.. beda banget dengan di Belleville. Lingkungannya, tata kotanya, bangunannya,  jalanannya, orang-orangnya. Kami menyusuri daerah itu jalan kaki hingga ke Notre-Dame dan di sinilah baru saya bisa bilang : Paris is a beautiful city.

Source : Google


Hari kedua, teman saya mengajak kami berjalan menyusuri Champ Elysees yang terkenal dengan toko-toko middle-high nya di sepanjang jalan. Daerah ini pun cantik. Sesekali saya melihat ada polis berjaga-jaga di beberapa sudut. Teman saya bilang bahwa saat ini setiap daerah-daerah wisata di Paris dijaga ketat oleh polisi berseragam maupun polisi dengan pakaian preman. Yah sudah sewajarnya sih karena Paris kan memang terkenal dengan copetnya yang ganas. Ciri-ciri copet yang temen saya bilang adalah, berpakaian seperti gipsy dan berpura-pura nawarin sesuatu, dan begitu kita tertarik, langsung deh teman-teman si copet itu datang ngerempuk. Sasaran utamanya adalah turis Asia. Kenapa? Karena mostly turis Asia itu selalu membawa uang cash, sedangkan turis eropa tidak suka bawa cash. Jadi saran buat yang mau ke Paris, lebih baik ngga usah bawa uang cash banyak2. bawa saja secukupnya, sisanya kita bisa bayar pake kartu kredit.

Satu hal yang membuat Paris kurang enak dilihat adalah banyaknya 'gelandangan' yang berkeliaran di jalan. Mereka tidak segan untuk ngemis pada tiap orang yang mereka temui. Dan parahnya, beberapa dari mereka bahkan tidur di jalanan seperti di bangku yang ada di trotoar ataupun di dalam box telepon umum. Untuk kota seterkenal Paris, saya pikir seharusnya tidak seperti itu. Hal ini terjadi pastilah ada penyebabnya. Lalu teman saya bilang, kalau di Paris itu ternyata para gelandangan yang tidak punya pekerjaan itu diberi uang tunjangan oleh pemerintah. Pantas saja mereka lebih milih untuk jadi gembel dibanding bekerja, karena kalau mereka kerja, pemerintah tidak akan kasih tunjangan lagi.

Kalau ditanya, maukah saya balik lagi ke Paris?? Tentu saja saya mau, tapi next time, mungkin saya akan lebih mengeksplor keluar kota Paris, seperti Colmar, Strassbourg, Lourdess,  Annecy, dll.




Share
Tweet
Pin
Share
No comments
After 16 hours on flight, 2 times transit in SG and Abu Dhabi, then we finally arrived in Paris 08.00 in the morning with surprising temperature, 13 degree celcius.

"Hah.. 13 derajat?" kata si boss sesaat setelah pesawat kami mendarat.

Saya ga langsung menanggapi, hanya dalam hari saya berkata, ah masa sih, mungkin itu suhu waktu masih di atas sebelum turun. Tapi semuanya segera terjawab begitu kami keluar dari pesawat. Brrr... angin dingin langsung terasa menusuk dada saya yang saat itu hanya menggunakan t-shirt yang tipis. Saya segera menutup jaket saya dan memakai syal. Sambil gendong si boy, saya pun buru-buru berlari ke dalam bus yang telah menunggu kami tidak jauh dari pesawat.

"Gila nih sedingin ini, kita salah bawa baju ini sih," ujar salah seorang penumpang asal Indonesia yang lain yang kebetulan turun dari pesawat bareng sama saya. Dalam hati saya bilang lagi, bener ini sih salah bawa kostum, karena baju yang kami bawa itu rata-rata baju musim panas berbahan tipis. Soalnya pas mau packing itu saya konfirmasi dulu sama tante saya yang ada di Belanda, tanya keadaan dan cuaca di sana, dan dia bilang bawa baju biasa aja, jaket ga usah yang tebel karena udah mulai panas. Tapi ternyata... moga-moga nanti agak siang suhu udara akan naik dan naik, yah setidaknya 20-25 derajat lah.

Masuk ke gedung airport, berasa agak hangat, tapi lupakanlah soal cuaca karena sekarang saatnya ngantri di imigrasi. Cukup panjang antriannya, tapi yang melegakan adalah inigrasi Paris tidak seseram imigrasi Singapore. Mereka tidak banyak tanya-tanya, bahkan tidak tanya apa-apa, cuma lihat passport, cocokin muka, cap, dan kita boleh pergi. Simple banget kan?? Beda banget sama pas kemarin saya transit di Singapore. Karena beda pesawat jadi kami harus keluar dan melewati imigrasi. Melewati imigrasi Singapore berarti harus mengisi departure card dan karena status kami cuma transit, jadi saya tidak mengisi hotel di mana kami akan menginap karena memang tidak akan menginap. Tapi entah kenapa itu dipermasalahkan oleh si petugas, dia bilang dengan ketusnya bahwa saya seharusnya mengisi nama hotel dengan terminal di mana nanti saya akan berangkat. Nah.. yang begini memangnya saya tahu? Petunjuk mengenai hal ini pun tidak ada sama sekali!! Ya sudahlah, kalau diingat lagi jadi bete sendiri, yang sudah berlalu biarkanlah berlalu.

Lolos dari imigrasi, kami pun segera mengambil bagasi kami. Dan begitu saya mendapatkan koper saya yang besar, omg, gembok koper saya hilang. Tapi koper masih dalam keadaan tertutup. Saya langsung  membuka koper saya dengan rasa cemas. Bukan cemas karena takut kehilangan barang, tapi cemas karena takut ada yang masukin barang terlarang ke dalam koper saya. Tapi Puji Tuhan, koper saya aman. Tarik nafas legaaa.. Next adalah saya harus membeli SIM CARD. Ini penting banget mengingat paket dari Indo itu mahal sedangkan kita perlu banget internet buat lihat jadwal kereta ataupun lihat Google Map.

Sebelum saya berangkat, saya sudah banyak baca-baca tentang Sim Card ini. Awalnya atas rekomendasi beberapa orang, dari beberapa option, pilihan saya jatuh pada Java Sim Card. Java Sim Card ini mencakup sekitar 45 negara Eropa dan menawarkan jumlah kuota yang beragam, mulai dari 1GB - 10GB. Harganya pun beragam, untuk yang 1GB itu 300rb dan yang termahal 10GB adalah 1,4jt. Kartu ini hanya bisa digunakan untuk internet, berlaku 30 hari dari tanggal pengaktifan, dan bisa digunakan untuk Tethering. Kemrin itu saya berencana untuk beli kuota yang 3GB dengan harga 650rb. Tapi pas mau order, ternyata seluruh SIM Card untuk Eropa dengan sold out dan belum tahu lagi kapan akan restock. Akhirnya saya coba search dari sharing orang-orang di grup backpacker international dan dapet rekomendasi tentang Orange Holiday Sim Card dan Vodafone. Perbedaan diantara keduanya adalah kuota, masa aktif, dan negara asal simcard tsb. Orange itu dari Perancis, memiliki masa aktif 15 hari dengan kuota 10GB dan harganya 39,99 Euro atau sekitar 675rb, ini jauh lebih murah dibanding kalau saya beli Java Sim Card karena kalau Java kan yang kuota 10GB itu hargnya 1,4jt. Sedangkan Vodafone itu dari Belanda. Kuotanya lebih sedikit dari Orange, tapi harganya kalau dihitung-hitung kurang lebih sama dengan Orange. Tapi berhubung saya masuk di Paris dan need internet as soon as posible, jadi saya beli Orange Sim Card saja yang lebih mudah di dapat. Untuk pembelian Orange Sim Card di bandara CDG, kalau di terminal 2, setelah keluar, berjalanlah ke kiri sekitar 300m di sana ada mini market namanya RELAY. Hanya tinggal bilang saja sama yang jaga cashier kalau kita mau beli Orange Sim Card, mereka sudah paham koq. Lalu kita hanya tinggal mengikuti petunjuk aktivasinya saja.

Orange Holiday SIM CARD

Selesai masalah SIM CARD, hal selanjutnya adalah transportasi menuju ke apartment kami di Belleville. Waktu saya masih di Indo, saya sudah mempelajari bagaimana caranya dari airport menuju apartment kami. Saya juga sudah tanya host saya dan juga teman saya yang kebetulan tinggal di Paris. Ada 3 alternatif, yang pertama adalah naik train ke Gare du Nord and then sambung naik Metro ke Belleville. It seems easy but temen saya bilang dari stasiun trainnya Gare du Nord ke stasiun Metro-nya itu harus turun tangga. Sedangkan host saya menyarankan dari airport turun di stasiun Les Chatelles, tapi temen saya bilang Les Chatelles itu luar biasa padatnya dan banyak copet. Yang kedua adalah bus. Dari airport naik bus ke Opera (city), tapi dari opera ini ke BElleville harus naik bus lagi atau Metra 2x sambung, so skip buat bus. Yang terakhir adalah taksi. Sebenarnya ini adalah cara yang paling gampang dan yang justru paling saya hindari, karena yang pasti naik taksi di Paris itu muahaalll banget. Tapi balik lagi, setelah melihat keadaan kami sekarang yang butuh banget istirahat dan kayanya mustahil untuk angkat koper naik train dan nyambung lagi naik metro belum lagi cari alamat, wowww.. akhirnya saya memutuskan untuk naik taksi saja.

Sama seperti di kota/ negara lain, setiap airport punya taksi corner atau tempat di mana kita bisa antri untuk naik taksi. Tapi beda sama di Jakarta atau Singapore, di Paris tidak ada antrian panjang di taksi corner, singkatnya, kita bisa naik taksi tanpa ngantri. Sayangnya pada waktu itu saya tidak tahu kalau taksi itu punya pengeculian dalam hal membawa penumpang anak-anak. Setahu saya, di Paris dan kota-kota lain di Eropa, anak-anak wajib untuk memakai carseat bila bepergian dengan mobil, jadi saya pikir itu juga berlaku untuk taksi. Bilanglah saya pada si petugas taksi bahwa saya perlu taksi dengan 2 buah carseat untuk ke Belleville. Si petugas taksi itu lalu mengontak seseorang dan dia bilang sama saya, kalau mau harganya 56 Euro atau sekitar hampir 1 juta kalau di rupiah kan.. woww kann... Tapi yah karena situasi dan keadaan akhirnya kami pun setuju untuk naik taksi dengan harga segitu.

Menunggu sekitar 10 menit akhirnya taksi kami datang. Berbeda dengan taksi-taksi pada umumnya yang berbentuk mobil sedan, taksi kami ini berupa minivan keluaran dari Mercedes. Seorang pria memakai jas kemudian turun dari tempat kemudi, dengan sigap dia langsung membukakan pintu mobil untuk kami setelah memasang carseat dan booster seat terlebih dahulu, lalu setelah kami masuk, dia mengangkut semua barang bawaan kami ke dalam mobilnya. Beda luar, beda juga dalamnya, taksi kami ini disebut sebagai family taksi, berkapasitas 6-7 orang penumpang dengan bangku yang berhadapan. Agak cemas sebetulnya saya karena si boy ini tidak biasa pakai carseat di mobil. Tapi puji Tuhan berkat gadget juga, kali ini dia tidak protes ketika didudukan dan diikat di carseat.




Taksi mulai melaju, mulailah perjalanan kami menuju downtown Paris. Surprise bahwa di paris pun ternyata macet dan driver taksi kami bilang bahwa di Paris ini memang selalu macet di jam-jam dan tempat-tempat tertentu.. hmm sama yah dengan di Indo :D Ngobrol punya ngobrol, ternyata driver kami yang berpenampilan necis ini berasal dari Kamboja dan sudah sekitar 8 tahun tinggal di Paris. Merasa sama-sama berasal dari Asia Tenggara, driver kami ini sedikit bercerita tentang Paris dan wilayah-wilayah yang harus diwaspadai. Dan ketika kami bilang bahwa kami akan tinggal di Belleville, dia bilang lebih baik agar kami berhati-hati jika mau naik Metro di daerah sana, karena itu bukan daerah elit, banyak pendatang dan sedikit rawan kejahatan. Hati saya jadi was-was mendengarnya, karena setahu saya, Bellevilla adalah China Town, tapi tentang daerahnya elit ayau bagaimana, saya tidak mengerti. 

Setelah sekitar 45 menit, akhirnya kami sampai di Belleville. Di tengah perjalanan tadi si boss bilang, bagus tadi ngga naik kreta, karena ternyata dari airport jauh juga. Memang agak jauh, menurut google pun, kalau pakai train dan sambung naik Metro itu perlu waktu sekitar 1 jam lebih. Kami sangat beruntung karena driver taksi kami sangat baik. Dia bahkan turun untuk menanyakan alamat apartment kami benar atau tidak dan setelah dia yakin benar dan tahu dimana tempatnya, barulah dia menurunkan barang-barang kami. Sekali lagi sebelum berpisah, dia meminta kami agar berhati-hati jika naik transportasi umum di daerah sana.

Awalnya tidak terbayang dengan apa yang driver kami katakan, tentang daerah pendatang dan bukan daerah elit, tapi setelah kami turun dan berjalan masuk ke halaman apartment kami, saya sedikit demi sedikit mulai mengerti. Daerah itu banyak pendatang terutama orang Timur Tengah dan Asia (makanya disebut China Town) dan memang daerah itu juga jauh dari kata elit bahkan menurut saya cenderung agak kumuh karena beberapa spot banyak sampah dan bau pesing. Hilang sudah bayangan saya tentang apartment yang nyaman dan tenang. Tapi tidak semuanya jelek, karena di sana banyak orang Asia, jadi ada banyak toko Asia dan Chinese restorant di dekat-dekat sana. Statiun metro Belleville dan Carefour berada tepat di depan apartment.

Sampai di depan gedung apartment saya, sedikit bersyukur karena gedung apartment saya sedikit lebih bagus dari gedung apartment sebelah. Host kami tidak ada di tempat karena harus bekerja pada hari itu, tapi dia sudah menitipkan kunci untuk kami di ruang pengurus apartment, sekaligus memberitahu kami pass code untuk masuk ke pintu utama, jadi ketia kami datang kami hanya tinggal mengambil kunci dan masuk ke apartment. Apartment kami terletak di lantai 6, jadi kami naik lift langsung ke lantai 6. Berasa lega karena apartment ini keamanannya bagus menurut saya. Masuk ke gedung harus pakai kode, dan untuk naik lift ke lantai yang kita tuju pun harus pakai kode atau pakai sensor yang menempel di kunci. Jadi ga sembarang orang bisa masuk kecuali dia punya pass code kita. Setibanyadi lantai 6, saya melihat hanya ada 2 pintu di sana. Satu kanan dan satu kiri dan semuaya bisa dijangkau hanya dengan beberapa langkah saja. Apartment kami adalah yang sebelah kanan. Awalnya waktu saya memasukkan kunci, saya mengalami kesulitan dalam membuka pintu, sampai sempet mikir 'waduh nih orang salah kasih kunci,' tapi ternyata pintu sulit terbuka karena cara membukanya yang salah, bukan kuncinya. Kekhawatiran saya semula terobati begitu saya akhirnya berhasil membuka pintu apartment sewaan kami. Saya pun menarik nafas lega. Apartment kami sangat nyaman, dengan penataan interior ala parisian chic. Tidak ada beda sama sekali dengan fot yang saya lihat di AirBnb sewaktu saya booking bahkan ini melebihi ekspektasi saya.





Apartment itu terdiri dari 3 kamar tidur, dengan 1 kamar mandi, ada ruang tamu yang jadi satu dengan ruang makan, lalu dapur yang hanya dipisahkan oleh meja bar yang terbuat dari kayu. Dan yang paling saya suka adalah, dapurnya lengkap banget, mulai dari alat masak sampai bumbu-bumbu dapur semua ada dan host saya memperbolehkan kami menggunakannya. Recommended banget deh pokonya hostnya. Hitung-hitungan sama si boss, secara keseluruhan mungkin luas apartment itu sekitar 100m2 dan semua tampak luas. Beda banget sama apartment 3 kamar tidur di Indo yang sering saya lihat, kanan kiri mentok. Di sini, bocah-bocah saya bahkan bisa main hide and seek. Dalam hati, kalau punya apartment kaya begini sih saya mau dah tinggal di apartment :)

Dan dimulailah petualangan kami...





Share
Tweet
Pin
Share
No comments
3rd January 2017
Day 3 - River Safari

Tujuan kami hari ini adalah River Safari. Kalau melihat peta, jarak antara hotel kami dan River Safari ini cukup jauh juga. Karena hari hujan dan agak tidak memungkinkan untuk naik MRT/ bus, akhirnya kami memutuskan untuk naik taksi uber. Taksi uber seriusan?? Memangnya di SG ada taksi uber?? Ya adalah.. bahkan mungkin sebelum di indo ada taksi uber, di SG sudah ada duluan..

River Safari terletak di Mandai Lake. Sedikit agak bingung kl liat map, karena di sana tidak tertulis 'River Safari' melainkan 'Wildlife Reserve Singapore'. Kenapa begitu?? Setelah kami tanya pada driver uber kami, kami jadi tahu bahwa Wildlife Reserve Singapore itu adalah lembaga yang me-manage River Safari, Night Safari, Singapore Zoo, dan Jurong Bird Park. Dan karena semua taman itu terletak di satu area besar yang sama, maka di peta hanya ditulis 'Wildlife Reserve Singapore'.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
2nd January 2017
Day 2 - S.E.A Aquarium, Sentosa Island, Vivo City Mall

What is Sentosa Island?
Sentosa Island adalah sebuah pulau di Singapura yang terkenal sebagai tempat berlibur. Sentosa Island ini juga merupakan salah satu lokasi terletaknya simbol negara Singapura, yaitu Merlion yang disebut sebagai Merlion Sentosa.

source by. Google

Sentosa Island sendiri terbagi menjadi 4 wilayah yang masing2 punya zona hiburan yang berbeda
1. Imbiah Lookout, tempat hiburan di sini mostly bersifat mengedukasi seperti Discover of Singapore dan Butterfly Park.
2. Siloso Point, terkenal dengan wisata bawah laut.
3. Beaches, ada 3 pantai yang terkenal di Sentosa Island ini yaitu Siloso Beach, Palawan Beach, dan Tanjong Beach.
4. Resort World Sentosa, disinilah tempat yang paling banyak hiburannya. Universal Studio dan S.E.A Aquarium terletak di wilayah ini.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
1st January 2017
Day 1 - Arrive in Singapore

Skip new year party last night, wake up early for the morning flight... Jam 6 pagi kami sudah siap brangkat ke airport dengan sebuah koper kecil, travel bag, ransel, dan 2 buah stroller (1 pny sendiri dan 1 rental). Perjalanan ke airport lancar banget, cuma sekitar 30 menit dari rumah kami di Karawaci tanpa memotong jalan belakang, tapi begitu sampe airport, ternyata airportnya cukup rame. Setelah check in, kita jalan2 dl di airport karena waktu boarding masih cukup lama, dan bahkan sempet breakfast dl di AW Resto :D Masuk pesawat.. eng ing eng.. penuh banget. Tapi untungnya kita dpt tempat duduk ngga di tengah2. Agak khawatir sebenernya karena ini adalah first flight-nya si Boy, takutnya dia bakalan bosen dan minta jalan ke sana ke sini (maklum anak setahun setengah). Tapi thank's God dia anteng banget, dan tidur malahan. Jadi his first flight berjalan mulus.

Sampe di SG sekitar jam 11 siang waktu SG. Ini pertama kalinya saya ke SG bawa anak2 dan sebelumnya ngga pernah perhatiin kalau di Changi itu ada jalur khusus untuk anak dengan stroler dan kursi roda, dan ini membantu banget (menurut saya) karena kita jadi ngga perlu ngantri panjang2 di imigrasi ataupun ketika lagi tunggu taksi.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sebenernya Singapore itu bukan pilihan pertama kami buat liburan tahun baru,  tp karena bbrp hal akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Singapore.
Awalnya saya ingin merayakan tahun baru di sana.  Pergi tgl 31 dec dan pulang tanggal 4 januari,  tp ternyata tiket garuda untuk tanggal tersebut harganya sudah selangit. Jadi setelah mencari-cari akhirnya sy beli tiket untuk tanggal 1-5 january. 
Setelah beli tiket,  barulah saya hunting2 hotel,  tanya kanan kiri,  liat review2 kira2 hotel mana yg kamarnya cukup besar (maklum kita berempat), dekat MRT, dan dekat dengan tempat makanan.  Dan akhirnya pilihan saya jatuh pada Strand Hotel di Benchoelen Street yg ga jauh dari daerah Bugis. Harga hotelnya bisa dibilang relatif murah jika dibanding dengan hotel2 lain di SG dan hal lain yg membuat saya akhirnya memilih hotel ini adalah kamarnya yg cukup luas, 20 meter square untuk double room,  cukuplah buat taro2 barang dan buat kids main2.
Untuk reservasi hotel saya ambil di booking.com krn bisa free cancelation dan payment di tempat pada saat check in. Tapi mohon diperhatikan bahwa harga yg keluar pada saat kita melihat hotel adalah harga hotel selama berapa hari kita menginap dan BELUM termasuk tax.  Tax hotel adalah sekitar 21%, jadi jika harga akhir yg tunjukkan 4,5 kamu harus tambahkan 21% dan itulah harga yg harus kamu bayar.


Hotel selesai,  kemudian hal berikutnya adalah tempat wisata.  Tempat apa saja yah yg akan kami kunjungi dan tentunya cocok untuk anak2. Kami punya 5 hari di Singapore,  tapi saya mengesampingkan hari pertama dan terakhir,  berarti hanya tinggal 3 hari yg bisa kami gunakan full untuk mengunjungi tempat wisata, dsb.  Dan berhubung perginya dengan anak2, jd saya hanya menargetkan 1 hari 1 tempat wisata,  jika masih ada waktu dan mau pergi ke tmpt lain itu urusan nanti di sana.  Akhirnya River Safari,  Sentosa Island,  dan Garden by the bay adalah tempat yang kami pilih untuk kami kunjungi di Singapore kali ini. Dan untuk tiket masuk ke tempat2 itu, kami beli semua di Klook.com, bisa liat di webnya dan ada juga aplikasi Android dan IOS nya. So far, harga yang kami dapatkan di Klook ini relatif lebih murah dibanding situs lain yang menyediakan tiket yang sama. Selain itu, deskripsi dan petunjuk di Klook ini sangat lengkap, sampai nomor2 MRT/ bus yang harus kita tumpangi pun dia tulis. Very Recommended!

Persiapan untuk di sana sudah selesai dan sekarang tinggal packing dan pergi. Oh ya, berhubung saya bawa anak kecil, jadi barang packingan-nya juga cukup bnyk, terutama obat2an. Untuk daftar packing list bisa liat DISINI.

So.. this is our itinerary (click one by one for the details) :

Day 1 - arrive in SG, check in hotel
Day 2 - Sentosa Island, visit S.E.A Aquarium
Day 3 - Visit the River Safari
Day 4 - Visit Garden by the Bay 
Day 5 - back to Indonesia

So.. see u in Singapore!!

Recommendation :

Hotel
Strand Hotel
25 Bencoolen Street, Bencoolen, 189619, Singapore
Booking HERE

Attraction ticket by KLOOK

















Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

About Me

~ Mommy of two | Child of GOD ~


Travelling, it leaves you speechless the turns you into a storyteller

Follow Us

  • facebook
  • instagram
  • pinterest

POPULAR POSTS

  • Paduan Mengisi Formulir Aplikasi Visa Schengen
    Hai temen-temen yang mau apply visa Schengen... Seperti yang sudah saya tulis di post sebelumnya, mengunduh dan mengisi formulir aplika...
  • Apply Sendiri Visa Schengen untuk Keluarga
    EROPA adalah benua yang bisa dibilang banyak dimintai orang-orang untuk berlibur. Banyaknya tiket promo dari airlines juga tour-tour murah ...
  • Semalam di Grand Mercure Bandung
    Berhubung saya orang Bandung, jadi walaupun saya suka ke Bandung tapi saya tidak pernah sekalipun menginap di hotel di Bandung. Dan Grand M...
  • Keliling Eropa dengan Eurail Pass
    Setelah memutuskan untuk pergi ke Eropa pada liburan musim panas lalu dan juga kebetulan mendapatkan tiket harga promo dari Etihad SIN - CD...
  • Metro Oh Metro...
    Salah satu tekad saya ketika saya berada di Paris adalah pengen keliling Paris dengan ala-ala Parisian. dan Metro adalah pilihan utama saya...
Copyright by. insidetheirbackpack. Powered by Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2018 (10)
    • ▼  October (1)
      • Metro Oh Metro...
    • ►  September (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (3)
    • ►  May (1)
  • ►  2017 (5)
    • ►  August (1)
    • ►  February (4)
  • ►  2016 (1)
    • ►  November (1)

Categories

akomodasi eropa indonesia tips transportation travelling with kids visa

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates